Banyak Orang Berbondong-bondong Ingin Jadi PNS, Kenapa Mas Malah Resign?

Banyak Orang Berbondong-bondong Ingin Jadi PNS, Kenapa Mas Malah Resign?

Pertanyaan itu cukup sering dilontarkan kepada saya bahkan sebelum saya resmi memutuskan untuk resign dari PNS. Ya karena selama ini saya cukup sering mengutarakan rencana saya untuk resign dari PNS. Baik itu pada keluarga, tetangga, saudara atau pun teman. 

Untuk menjawab secara praktis dan tidak berulang-ulang. Maka saya merasa perlu merangkai dalam sebuah tulisan ini.

PNS itu dream banget. Harapan para orang tua terhadap anaknya. Profesi idaman para mertua terhadap calon menantunya. Ya, setidaknya itu fakta yang terjadi di masyarakat kita. 

Saat kuliah dulu saya bercita-cita menjadi entrepreneur. Menjajakan barang apapun ke kosan teman hingga jualan di trotoar di Kota Jogja sudah menjadi hari-hari saya saat itu. Namun akhirnya jalan hidup mengantarkan saya menjadi PNS. 

Setelah lulus kuliah, puluhan kali saya mendaftar di perusahaan swasta. Namun, tak satu pun yang menerima. Ya, rencana saya dulu ingin kerja swasta yang gajinya gede. Mengumpulkan modal dan pengalaman lalu setelah 4-5 tahun kemudian bercita-cita resign untuk membuka usaha sendiri.  

Saya hanya sekali mendaftar lowongan PNS dan atas ijin Allah diterima. Bisa jadi itu karena doa orang tua.

Namun, setelah 12 tahun menjadi PNS, akhirnya saya memutuskan untuk resign. Berhenti dari pekerjaan atas permintaan sendiri. Mengapa?

Begini ceritanya..

Ketika menjadi PNS, apa value yang akan kita dapatkan?

Pertama, Penghasilan/Income

Penghasilan tetap membuat banyak orang merasa aman. Orang tua senang. Mertua pun tenang. Tidak ada cara yang lebih terjamin untuk mendapatkan penghasilan bulanan di negeri ini, selain menjadi PNS. Pokoknya dijamin. Bahkan ketika perusahaan terpaksa melakukan PHK di saat krisis seperti ini, PNS merupakan profesi yang paling aman.

Kedua, Status Sosial/Prestise

Kita tinggal di masyarakat yang memandang PNS sebagai makhluk terhormat. Apalagi yang udah punya jabatan. Tetangga Anda bakalan respek terhadap Anda. Tak peduli Anda punya banyak hutang wkwk, yang jelas casing Anda adalah pegawai negara. 

Ketiga, Kekuasaan/Power

Tidak dimungkiri. Menjadi PNS akan membuat Anda memperoleh privilege ketika berurusan dengan birokrasi pemerintah. Setidaknya dalam urusan administrasi membuat KTP, SIM, dan Passpor. Jujur selama menjadi PNS saya pun merasakannya hehe.

Keempat, Kebanggaan/Pride

Saya yang dulu bercita-cita menjadi entrepreneur pun, girang sekali ketika mengetahui nama saya termasuk dalam daftar CPNS yang diterima di sebuah lembaga negara.

Bangga ketika berhasil menyingkirkan ribuan peserta yang lain. Bangga ketika bisa membanggakan orang tua. Bangga ketika menjawab pertanyaan, “Kerja di mana sekarang?” Bukan lagi sosok pengangguran yang khawatir ketika ditanya orang, “Katanya udah wisuda ya, kerja di mana sekarang?” 

Seiring perkembangan waktu, kesadaran saya akan value sebuah pekerjaan ini makin menguat. Dari keempat unsur di atas, ternyata status sosial, jabatan/kekuasaan dan kebanggaan bukan lagi menjadi value pekerjaan yang menjadi prioritas bagi saya. 

Satu-satunya yang masih menjadi value pekerjaan bagi saya adalah penghasilan atau income. Karena jelas kita butuh uang. Setidaknya nafkah untuk keluarga. 

Tapi kalau soal income, apapun profesinya saya yakin ada rezekinya. Di zaman digital kalau kita mau rajin mencari tahu dan tekun mempraktekkannya, tentu banyak sekali sumber income yang berlimpah.

Jadi saya meninggalkan pekerjaan bukan masalah income karena jelas saya masih butuh income. Jangan dikira saya udah kaya dan nggak butuh uang ya wkwk.

Lalu, value pekerjaan apa yang kini menjadi prioritas bagi saya mengalahkan tiga value yang saya dapatkan ketika menjadi PNS?

Pertama, Waktu Luang/Leisure

Value ini menjadi prioritas bagi saya. Tercatat sependek saya menjadi PNS, saya sudah pindah kontrakan delapan kali dalam 12 tahun karena saya juga sempat break mengambil tugas belajar. Tiga anak saya pun lahir di tiga provinsi yang berbeda.

Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya. Maka tak salah bila saya merindukan waktu luang. Dengan waktu luang, saya pikir akan banyak waktu untuk keluarga, membesarkan anak-anak dan membersamai anak-istri serta menetap di kota impian. Jam kerja yang flexible. Keluar dari rutinitas 9 to 5. Kerja bisa kapan aja, bahkan di rumah aja seperti saat Pandemi sekarang ini.

Ada yang bilang, uang bisa dicari, tapi waktu takkan kembali. Jadi uang itu murah, waktu itu mahal. Tapi banyak dari kita menjual waktu demi uang.

Kedua, Kebebasan/Freedom

Saya ingin pekerjaan itu yang memberikan kebebasan. Bukan hanya kebebasan waktu, tapi juga kebebasan bertindak. 

Kalau ada kesempatan, ya kerja itu pengen yang semau gue. Tidak diatur-atur. Tidak menurut sistem atau kata atasan padahal kita sebenarnya nggak sreg. Tidak mengikut pada aturan yang kadang kaku. Lebih kaku dari sepatu kulit sintetis.

Jika itu semua menjadi beban, maka melepaskan tentu membuat semuanya menjadi lebih ringan. Lebih bebas dan luwes bergerak sebagai rakyat biasa karena bukan lagi menjadi bagian dari aparat pemerintah. 

Tapi dari semua itu sebenarnya yang paling penting adalah kemerdekaan pikiran. 

Ketiga, Kesukaan/Passion

Pekerjaan yang dibangun atas dasar passion, tentu akan menjadi sebuah pekerjaan yang menumbuhkan semangat, membahagiakan dan memberikan manfaat yang lebih banyak.

Passion saya di pekerjaan sebelumnya sudah luntur. Skill pun nggak berkembang. Pun bisa dibilang saya tidak banyak memberikan kontribusi bagi negara. Kalau diteruskan ya nggak nyaman. Nggak jadi apa-apa.

Di sisi lain saya punya passion di bidang yang saya sukai. Industri yang saya yakini masih sunrise. Dengan skill yang saya kira bisa dikembangkan. Serta saya percaya mampu memberi kontribusi lebih daripada saya tetap mempertahankan posisi saya hanya karena takut kehilangan gaji.

Setelah saya lakukan analisis SWOT (baca: sewot) wkwk. Ya memang kesimpulannya saya perlu resign. Kalau pun saya nggak menjadi apa-apa, setidaknya saya sudah puas mewujudkan mimpi saya. Mengambil keputusan ini sesuai hati nurani di usia sesuai target. Tentu semuanya setelah mendapatkan restu dari istri, orang tua dan mertua. Walau cukup lama meyakinkan mereka.

Ya walau banyak orang berupaya bekerja sampai di puncak karir. Tapi bagi saya puncak karir saya adalah ketika kehilangan pekerjaan demi value yang saya perjuangkan wkwk.

Nah, itu value pekerjaan yang menjadi prioritas saya saat ini. 

Tak perlu ikut-ikutan. Sebab semua orang punya value-nya masing-masing. Ambil aja hikmahnya. Karena hidup itu tentang perspektif. Sangat mungkin pandangan Anda bertolak belakang dengan apa yang saya pikirkan.

Jadi apa value pekerjaan yang menjadi prioritas Anda?

A. Set.

9 Comments

  1. Salam kenal mas, panggilnya mas setya atau apa ya? Kita baru berteman di fb.

    Saya pns juga sdh 14 tahun bekerja, sempat mau resign 2011, tapi belum jadi sampai sekarang hiks

    Apalagi saat ini ada tanggungan hutang, dan tentu istri dan anak. Kalau boleh saya tebak sepertinya mas di kementerian keuangan ya mas? Bener ga?

    Saya di pemda di instansi keuangan juga. Sejak 2008 saya bisa buat web utk klien mas, cm 2019 sempat stuck, sy tutup en skrg buka lagi.

    Keinginan utk resign dr pns masih ada, share dong mas, apa aja yg harus di persiapkan, hingga bisa resign kaya mas. Makasi mas

    1. Salam kenal Mas Ade,

      Boleh panggil sy Agung atau Aset mas 🙂
      Sy bukan di Kemenkeu mas tp di instansi pusat juga yg kadang orang mengira bagian dari Kemenkeu.

      Persiapan sebelum resign menurut sy:
      1. Mental harus udah siap
      2. Keluarga udah nggak ada masalah dg pilihan tsb
      3. Ngga ada tanggungan angsuran/hutang udah lunas semua
      4. Paling tidak ada dana darurat seandainya tiba-tiba nggak gajian, masih ada uang untuk menutupi setara gaji bulanan. Selama berapa bulan tergantung pribadi masing-masing. Kalau punya anak istri ya setidaknya setahun ke depan.
      5. Udah ada income lain walaupun tidak tetap.
      6. Udah jelas apa yg akan dilakukan setelah resign dan diyakini merupakan pilihan terbaik.
      7. Yakin percaya dg Allah bahwa Allah Maha Pengasih. Jd apapun profesinya akan ada rezkinya.

      Demikian semoga bermanfaat 🙂

      A. Set.

  2. Salam kenal mas,
    saya melihat tulisan mas di fb, sangat bagus sekali, kebetulan saya pns sudah 6 tahun menjalani,.
    saat ini semangat kerja saya menurun, saya pgn resign mas, udah capek dgn pekerjaan monoton, birokrasi ngaco, apalagi atasan yg nyuruh kerjaan yg “menyimpang”.

    kalau boleh, bisa diinfokan emailnya mas ? saya pgn kontek2 mas, dan ingin menanyakan bagaimana proses resign

    terima kasih mas

  3. Waktu memutuskan resign mas udah punya tabungan utk kebutuhan brp tahun mas? Skrg fokus bisnis apa mas jl boleh tahu? Apaakh income dari bisnis mas udah setara dengan penghasilan waktu PNS?

    Maaf pertanyaannya bejibun hehhe..

    Salam kenal mas aji..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *